Selasa, 09 Juli 2019

Pricing

  • Pengertian Target Costing
Beberapa literatur yang mengemukakan pengertian target costing, yaitu:
  1. Menurut Hansen dan Mowen (2000): “Kalkulasi biaya target (target costing) adalah suatu metode penentuan biaya produk atau jasa berdasarkan harga (harga target) dimana pelanggan bersedia membayarnya. Ini juga sering disebut sebagai kalkulasi biaya berdasarkan harga (price-driven costing).”
  2. Menurut Horngren, Sundem, Stratton (1999): “Target costing is a cost management tool for making cost reduction a key focus througtout the life of a product.”
  3. Menurut Glenn Uminger (1998): “Target costing is a strategic profit planning and cost management system that incorporates a strict focus on customer wants, needs and values, and translates them into delivered products or services.”
Dapat disimpulkan bahwa target costing adalah suatu metode penentuan biaya produk berdasarkan harga yang bersedia dibayar oleh konsumen, yang bertujuan untuk mengurangi biaya agar target laba yang dikehendaki dapat tercapai. Berdasarkan definisi tersebut penelitian ini merumuskan bahwa metode target costing memiliki keterkaitan yang erat dengan istilah : (1) Perencanaan laba; (2) Harga; dan (3) Biaya.
  • Metode cost plus pricing
Setiap perusahaan menghasilkan produk dan menjualnya ke pasar untuk memperoleh laba demi kelangsungan hidup mereka. Agar produk yang dihasilkan dapat laku di pasaran maka berbagai strategi dilakukan perusahaan, termasuk strategi penetapan harga. Kebanyakan perusahaan menetapkan harga produk baru mereka sebagai penjumlahan dari biaya dan laba yang dikehendaki. Metode yang dikenal dengan “cost-plus pricing” ini banyak diterapkan oleh sebagian besar perusahaan Amerika dan Eropa. Alasannya bahwa perusahaan harus menghasilkan pendapatan yang dapat menutup semua biaya dan memperoleh laba.
Namun metode cost-plus pricing seringkali mengabaikan faktor permintaan dan persaingan. Semakin ketatnya persaingan dan kompleksnya pasar membuat perusahaan sulit untuk menetapkan harga produknya sesuai dengan yang dikehendaki, karena harga dibentuk oleh permintaan dan penawaran (pasar).


  • Perencanaan Laba
Setiap perusahaan membuat perencanaan laba sebagai acuan bagi kegiatannya untuk mencapai sasaran laba tersebut. Menurut Matz, Usry, Hammer (1997), “Istilah “perencanaan laba” dan “penganggaran” (budgeting) dapat dipandang sebagai istilah yang sinonim. Perencanaan laba merupakan rencana kerja yang telah diperhitungkan dengan cermat dimana implikasi keuangannya dinyatakan dalam bentuk proyeksi perhitungan laba rugi, neraca, kas dan modal kerja untuk jangka panjang dan jangka pendek. Anggaran (budget) hanyalah merupakan suatu rencana yang dinyatakan dalam nilai uang atau satuan kuantitatif lainnya. Perencanaan laba ditujukan untuk sasaran akhir organisasi dan bermanfaat sebagai pedoman untuk mempertahankan arah kegiatan yang pasti.”
Untuk memperoleh laba yang maksimum, perusahaan harus menghasilkan produk pada tingkatan mutu dan nilai yang sesuai dengan keinginan konsumen serta dalam volume, waktu, biaya, dan harga yang tepat. Aktivitas tersebut memerlukan peran serta dan koordinasi dari fungsi perekayasaan, pabrikasi, pemasaran, penelitian, keuangan, dan akuntansi. Metode target costing menetapkan biaya target untuk membantu masing-masing fungsi dalam merencanakan dan merancang konsep yang tepat agar produk yang dihasilkan berhasil di pasar dan memperoleh laba yang diinginkan. Target costing efektif diterapkan pada tahap perencanaan sehingga membantu manajemen dalam mengoptimalkan perencanaan laba.
  • Konsep Harga
Setiap perusahaan menetapkan harga atas produk yang ditawarkannya. Hal ini dilakukan karena harga merupakan elemen yang akan menghasilkan pendapatan. Dari pendapatan tersebut akan didapat laba/rugi bagi perusahaan setelah dikurangi beban-beban yang ada
  • Pengertian Harga
Harga merupakan suatu cara bagi perusahaan untuk membedakan penawarannya dari pesaing. Harga juga salah satu penentu utama pilihan pembeli. Berikut merupakan pendapat beberapa ahli tentang harga: Menurut Basu Swastha DH, dan Ibnu Sukotjo W (1997): “Harga adalah sejumlah uang (ditambah beberapa barang kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi beserta pelayanannya.” Menurut Mc. Charty (1993), “Price is what is charged for something. Of course price may be called different things in different setting.”
Dapat menyimpulkan bahwa harga adalah sejumlah uang yang harus dibayar untuk memiliki atau menggunakan suatu produk. Setiap harga yang dikenakan perusahaan akan menghasilkan tingkat permintaan yang berbeda-beda. Oleh karena itu perusahaan harus menetapkan harga jual yang tepat agar produknya dapat diserap oleh pasar sesuai dengan yang direncanakan.
Perusahaan yang menggunakan metode target costing menentukan terlebih dahulu harga produk baru yang akan dijual kemudian merancang suatu produk yang dapat dibuat dengan biaya yang rendah untuk memperoleh marjin laba yang cukup. Karena harga ditentukan oleh kondisi pasar kompetitif, maka penelitian pasar dilakukan pada awal kegiatan target costing untuk memberikan informasi mengenai permintaan dan kebutuhan konsumen.

  • Konsep Biaya
Biaya merupakan salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh perusahaan dalam menetapkan harga jual produknya. Biaya menjadi batas terendah bagi perusahaan dalam menetapkan harga produknya.
  • Pengertian Biaya
Horngren, et.al. (2008) mengungkapkan bahwa biaya didefinisikan sebagai suatu sumber daya yang dikorbankan (sacrified) atau dilepaskan (forgone) untuk mencapai tujuan tertentu. Suatu biaya biasanya diukur dalam unit uang yang harus dikeluarkan dalam rangka mendapatkan barang atau jasa. Biaya yang dibebankan pada produk membantu keputusan penetapan harga dan untuk menganalisis bagaimana tingkat profitabilitas produk yang berbeda. Muliadi (2009): 8 menyatakan bahwa biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam satuan uang, yang terjadi, sedang terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.

  • Metode Penetapan Harga
Swastha (2010:154) menyatakan bahwa metode penentuan harga jual yang berdasarkan biaya dalam bentuk yang paling sederhana, yaitu :
  1. Cost plus pricing method
Penentuan harga jual cost plus pricing, biaya yang digunakan sebagai dasar penentuan, dapat didefinisikan sesuai dengan metode penentuan harga pokok produk yang digunakan. Dalam menghitung cost plus pricing, digunakan rumus : Harga jual = Biaya total + Margin
  1. Mark up pricing method
Mark up pricing banyak digunakan oleh para pedagang. Para pedagang akan menentukan harga jualnya dengan cara menambahkan mark up yang diinginkan pada harga beli per satuan. Persentase yang ditetapkan berbeda untuk setiap jenis barang. Dalam menghitung harga jual, menggunakan rumus : Harga jual = Harga beli + Mark up
  1. Penentuan harga oleh produsen
Dalam metode ini, harga yang ditetapkan oleh perusahaan adalah awal dari rangkaian harga yang ditetapkan oleh perusahaan-perusahaan lain dalam saluran ditribusi. Karena itu, penetapan harga oleh produsen memegang peranan penting dalam menentukan harga akhir barang. Dalam menetapkan harga jualnya, produsen dapat berorientasi pada biaya. Proses penetapan harga dimulai dengan menghitung biaya per unit barang yang dihasilkan, kemudian menambahkan sejumlah mark up tertentu. Produsen menggunakan rumus yang mereka anggap cocok bagi mereka, tentunya berdasarkan pengamatan atas produk yang dihasilkannya. Setiap produk mempunyai pola biaya yang berbeda satu sama lainnya. Budiarto (2011:90) menyatakan Cost Plus Pricing adalah penetapan harga dengan menambahkan sejumlah (presentase) tertentu dari harga jual atau biaya sebagai keuntungannya.
  • Alasan Penerapan Target Costing
Menurut Garrison, Noreen (2001), metode target costing dikembangkan berdasarkan observasi dari dua karakteristik penting pasar dan biaya. Pertama adalah bahwa perusahaan tidak dapat mengendalikan harga, kecuali pasarlah (permintaan dan penawaran) yang menentukan harga, dan perusahaan yang berusaha untuk mengabaikan hal ini, mereka menanggung resikonya sendiri. Kedua adalah bahwa sebagian besar biaya produk ditentukan pada tahap desain.
  • Karakteristik Target Costing
Menurut Supriyono (1997) karakteristik target costing adalah sebagai berikut: 1) Target costing diterapkan dalam tahap pengembangan dan perancangan serta costing ini berbeda dari sistem pengendalian biaya standar yang diterapkan dalam tahap produksi. 2) Target costing bukan merupakan metode manajemen untuk pengendalian biaya dalam pemikiran tradisional, namun salah satu tujuannya adalah untuk mengurangi biaya. 3) Dalam proses penentuan biaya target, banyak metode ilmu manajemen digunakan, sebab tujuan manajerial penentuan biaya target meliputi teknik-teknik pengembangan dan perancangan produk. 4) Kerjasama banyak departemen diperlukan dalam melaksanakan target costing.
Proses target costing merupakan sebuah sistem perencanaan laba dan pengendalian biaya yang memiliki ciri-ciri utama sebagai berikut (Glenn Uminger (1998): 1) Target costing merupakan kalkulasi biaya berdasarkan harga, dalam hal ini harga pasar menentukan biaya yang diperkenankan (allowable cost). 2) Analisis sistematis atas fungsi dan keistimewaan produk yang paling penting bagi konsumen menjadi pedoman dalam pengurangan biaya. 3) Pengendalian biaya kebanyakan berlangsung pada tahap perancangan produk. 4) Proses target costing dilaksanakan oleh antar kelompok fungsional yang termasuk dalam dan di luar anggota rantai nilai. 5) Target costing memulai pengendalian biaya pada tahap awal pengembangan produk dan menerapkannya sepanjang siklus hidup produk.
  • Tujuan Target Costing
Menurut Monden (1995) target costing mempunyai dua tujuan, yaitu: 1) Untuk mengurangi biaya produk baru agar tingkat keuntungan yang dikehendaki dapat tercapai. 2) Untuk memotivasi seluruh karyawan perusahaan agar memperoleh laba target pada saat pengembangan produk baru dengan menjalankan metode target costing di seluruh aktivitas perusahaan.
  • Kegunaan Target Costing
Target costing mempertimbangkan faktor eksternal perusahaan (pasar). Melalui analisis pasar dan pesaing dapat membantu manajemen dalam merancang produk yang dibutuhkan konsumen dengan harga yang kompetitif. Menurut Albano, Bird, Clifton, Townsend (2003), metode target costing membantu perusahaan untuk: a) Menjamin bahwa produk disesuaikan dengan kebutuhan konsumen dengan lebih baik, b) Menyesuaikan harga dari keistimewaan produk dengan kesediaan konsumen untuk membayarnya, c) Mengurangi siklus pengembangan produk, d) Mengurangi biaya produk secara signifikan, e) Meningkatkan kerjasama antar departemen dalam perusahaan berkaitan dengan penyusunan, pemasaran, perencanaan, pengembangan, pembuatan, penjualan, pendistribusian, dan penempatan produk, f) Menggunakan konsumen dan pemasok untuk merancang produk yang benar dan untuk mengintegrasikan seluruh rantai persediaan dengan lebih efektif.
  • Tahap-tahap Pelaksanaan Target Costing
Menurut Supriyono (1997) proses target costing secara luas dapat dibagi menjadi lima tahap, yaitu:
  1. Perencanaan korporasi. Tahap ini dimulai dengan dilakukannya penelitian pasar untuk mengetahui kebutuhan/keinginan konsumen, harga yang berlaku, dan volume produksi yang diinginkan. Setelah perusahaan meneliti kebutuhan pelanggan dan harga pasar, maka manajemen mulai menyusun rencana laba jangka panjang dan menengah perusahaan secara keseluruhan dan menentukan target laba secara menyeluruh untuk setiap periode yang terinci untuk setiap produk.
  2. Pengembangan proyek produk baru tertentu. Pada tahap ini, departemen perencanaan korporasi memberi informasi kepada departemen perencanaan perekayasaan tentang jenis produk yang ingin dikembangkan dan isi perubahan rancangan model yang didasarkan atas riset pasar.
  3. Penentuan rencana dasar untuk produk baru tertentu. Dalam tahap ini, manajer produk meminta setiap departemen untuk menelaah: (1) bahan yang diperlukan; (2) proses pengolahan; dan (3) menaksir biaya. Sesuai dengan laporan yang dibuat oleh departemen-departemen tersebut, dihitunglah biaya taksiran total (drifting cost). Dalam waktu yang sama, harga target ditentukan oleh divisi pemasaran. Dari harga target dan laba, selanjutnya dapat dihitung biaya yang diperkenankan (allowable cost) atau biaya target (target cost) melalui pengurangan dari harga jual target dengan laba target
  4. Rancangan produk. Pada tahap ini, departemen rancangan menyusun draft cetak biru percobaan untuk sekumpulan biaya target setiap komponen. Kegiatan ini memerlukan informasi dari setiap departemen. Departemen rancangan juga membuat produk percobaan yang sesungguhnya sesuai dengan cetak biru yang telah dibuat, kemudian departemen manajemen biaya menaksir biaya tersebut. Drifting cost dihitung sebagai biaya yang diestimasikan berdasarkan biaya periode yang sedang berjalan (current cost projection). Setelah memeriksa drifting cost dan komponen biaya satu per satu, tiap departemen akan berunding. Jika timbul kesenjangan antara allowable cost dengan drifting cost maka tiap departemen akan mencoba menekan selisih antara allowable cost dan drifting cost tersebut melalui value engineering.
  5. Rencana pemindahan produksi. Pada tahap ini, kondisi perlengkapan produksi diperiksa dan departemen manajemen biaya menaksir biaya sesuai dengan draft cetak biru. Departemen perekayasaan produksi menyusun standar nilai bahan yang akan dikonsumsi, biaya tenaga kerja langsung, dan sebagainya. Standar nilai ini digunakan sebagai dasar data dalam menghitung biaya dan merencanakan harga komponen/bahan dengan pemasok. Setelah biaya target ditentukan dan jika rencana tersebut disahkan maka produksi dimulai. Biaya target ini akan menjadi dasar dalam pelaksanaan produksi.
Proses target costing secara singkat dijelaskan oleh Michael Maher (1997) yaitu melalui empat langkah sebagai berikut: a) Mengembangkan produk yang dapat memuaskan kebutuhan konsumen potensial, b) Menetapkan harga target berdasarkan nilai produk yang dipersepsikan konsumen dan harga pesaing, c) Memperoleh biaya target dengan mengurangi marjin laba yang dikehendaki dari harga target, d) Melaksanakan value engineering untuk mencapai biaya target.
  • Value Engineering
Value engineering dilaksanakan dengan tujuan agar biaya taksiran akhir mencapai angka yang sama atau kurang dari biaya target. Proses tersebut memerlukan peran serta semua fungsi dalam perusahaan untuk bekerjasama menekan biaya sampai mencapai target.
Menurut Cowe (1994) value engineering melibatkan penilaian sistematis mengenai bahan–bahan, komponen penampilan, desain, dan sebagainya. Proses tersebut termasuk menjawab pertanyaan–pertanyaan berikut: 1) Apakah penggunaan produk tersebut menyumbangkan nilai? 2) Apakah biaya sesuai dengan kegunaannya? 3) Apakah produk tersebut memerlukan semua sifat–sifat (ciri–ciri/keistimewaannya)? 4) Adakah sesuatu lebih baik untuk kegunaan yang dimaksud? 5) Dapatkah bagian (komponen) yang terpakai dibuat dengan metode biaya yang lebih rendah? 6) Dapatkah ditemukan produk standar yang akan dapat digunakan? 7) Produk tersebut dibuat dengan alat–alat yang sesuai, sudahkah mempertimbangkan jumlah yang digunakan? 8) Apakah bahan–bahan, tenaga kerja, biaya tak langsung, dan laba sesuai dengan harganya? 9) Dapatkah pemasok lain yang dapat diandalkan menyediakan produk tersebut dengan biaya yang lebih murah? 10) Adakah orang yang membelinya lebih murah?

sumber :
https://restualpiansah.wordpress.com/2016/03/12/target-costing-and-cost-plus-pricing/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar